Skip to content

Fisika: Rasa Sayange Truly Indonesia

February 27, 2012
tags:

Ilmuwan muda Indonesia mematahkan klaim lagu Rasa Sayange berasal dari Malaysia.

Logo Bandung Fe Institute (www.bandungfe.net)

VIVAnews –Hokky Situngkir masih ingat peristiwa di akhir tahun 80an itu. Di sebuah pastoral di kampungnya, Sidikalang, Sumatera Utara, dia berdiri di hadapan kakeknya. Bangunan itu sunyi. Di luar, angin kencang sedang bertiup. Sang kakek berhenti menggesek biola.

“Kau dengar suara angin ribut itu?”, tanya sang kakek. Dia menyuruh Hokky menajamkan telinga. Hokky, saat itu masih bocah enam tahun, lalu menyimak desau keras angin. Si kakek lalu melanjutkan, “Sekarang, adakah kau dengar kicau burung di antara angin ribut itu?”

Sang kakek adalah Liberty Manik atau L.Manik, seorang komponis besar Indonesia, pencipta lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”.

Kini, Hokky berterimakasih pada mendiang kakeknya itu. Lewat L.Manik, telinga alumnus Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) itu diasah mengenal bunyi, dan juga musik. Dia juga akrab dengan lagu tradisional Indonesia. Apalagi, L. Manik juga dikenal ahli Gondang, musik khas Batak.

Hokky Situngkir, adalah anak muda yang menekuni sains, terutama komputasi. Kelompoknya, Bandung Fe Institute, adalah kumpulan ilmuwan muda alumnus ITB. Lewat sains, mereka menjelajahi kekayaan budaya nusantara. Dari batik, lagu tradisional, sampai cerita rakyat. “Kita kaya dengan artefak budaya, tapi tak tertata baik,” ujar Hokky.

Di Bandung Fe Institute, bergabung mereka yang jago matematika, fisika, sampai astronomi. Sebagian besar, pernah dilatih Profesor Yohanes Surya. Hokky sendiri kerap mengguncangkan jagat sains nasional, lewat Teori Fraktal Batik, sistem komputasi melacak asal-usul Batik.

Hasil risetnya menyebar di berbagai jurnal internasional bergengsi. Dia memang rajin menulis soal sains, terutama fisika dan komputasi.

Suatu hari, telinga Hokky menangkap berita tak mengenakkan. Pada 1 Oktober 2007, ada iklan pariwisata di Malaysia bertajuk “Malaysia, Truly Asia“, menggunakan lagu rakyat. Liriknya campuran Melayu, Inggris, Mandarin, dan India. Sampai di sini, tidak ada yang salah.

Tapi, jika didengarkan lebih lanjut, lagu itu sangat akrab di telinga. Ada lirik “… Rasa sayang sayange” di lagu itu, tapi diubah jadi “… Rasa sayang sayang hey”. Jelas, itu dimodifikasi dari lagu Rasa Sayange, lagu turun temurun rakyat Maluku.

Protes keras muncul dari Indonesia. Terutama di Internet, bahwa Malaysia “mencuri” lagu Rasa Sayange untuk mempromosikan pariwisata mereka. Anggota DPR-RI juga berteriak keras. (Baca juga Berseteru Demi Rasa Sayang).

Tapi Tengku Adnan Tengku Mansor, Menteri Pariwisata Malaysia ketika itu menyatakan, Rasa Sayang –versi mereka dari lagu Rasa Sayange –adalah lagu rakyat di kepulauan Nusantara, dan Indonesia tak bisa mengklaim punya lagu tersebut.

Seperti tak mempan dikritik, esoknya Rais Yatim, Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia menantang Indonesia untuk membuktikan lagu ‘Rasa Sayange’ adalah warisan asli budaya Indonesia.

Hokky dan kawan-kawan pun terusik.

Menelisik “DNA” lagu

Anak-anak Bandung Fe Institute itu pun mulai bekerja. Kebetulan, mereka lagi mengumpulkan lagu-lagu tradisional nusantara. Dari lagu Bungong Jeumpa di Aceh, sampai aneka lagu rakyat dari Papua.

Suatu pemodelan pun dibuat melalui program komputer. Obyeknya adalah lagu-lagu nusantara. Pedomannya sederhana: setiap lagu pasti punya sekuens nada berbeda. Yang dicari adalah satuan informasi dasar dari sebuah lagu.

“Membedakan manusia bisa dilakukan dengan mengamati genetika dan informasi yang tersimpan di DNA,” kata Hokky kepada VIVAnews, 22 Februari 2012. “Tetapi untuk mengetahui “DNA” lagu, kita perlu mengetahui satuan informasi terkecil yang dapat menghasilkan perbedaan rasa setiap lagu,” ujarnya menerangkan.

Sebuah not, kata Hokky, tak bisa mewakili sebuah lagu. Not berdiri sendiri, dan membentuk lagu jika dia berada bersama barisan nada lainnya. Hokky pun menemukan satuan terkecil bagi lagu: sekuens nada.

Untuk melacak sekuens nada, para peneliti itu lalu menyiapkan database lagu-lagu daerah dari sekujur Indonesia. Mereka mencatat barisan nadanya, dan lalu digitalkan. Data polifonik dari lagu, diubah menjadi data monofonik.

“Inti dari analisis ini adalah mengkaji representasi nada dan durasi dari sebuah lagu,” kata Hokky. “Dan dari material ini, selanjutnya diubah menjadi data deret waktu,” ujar Hokky.

Langkah selanjutnya adalah menentukan parameter membentuk pita meme dari setiap lagu. Parameter ini diperoleh dengan memanfaatkan sejumlah metode dalam studi mekanika statistik yang berkembang dalam ilmu fisika.

Dari hasil penelitian, Holly membuat lima parameter yang membentuk sebuah pita meme.

Parameter pertama adalah koefesien Zipf-Mandelbrot. Dengan parameter ini, musik dipandang sebagai “bahasa”. Jika setiap konfigurasi nada dan durasi adalah huruf, maka ia akan membentuk kata (untaian nada). Kata-kata tersebut lalu diurutkan. Mulai dari yang sering dipakai, hingga yang jarang digunakan.

Dari pola ini, kemudian dihitung nilai-nilai koefesien Zipf-Mandelbrot di dalamnya. Hasilnya ada tiga variabel menunjukkan kompleksitas fitur statistik dari nada dan fitur dari lagu itu. Ia merefleksikan pola pengulangan untaian nada pada lagu.

Komponen pita meme yang kedua adalah koefesien girasi. Di sini, peneliti membandingkan nada dan durasi pada satu waktu dengan waktu sebelumnya. Ia juga dapat diubah menjadi visualisasi gerak radial.

Proses ini menghasilkan parameter kerapatan sebuah lagu. Parameter itu mengukur seberapa jauh lagu itu terpisah dari garis linier. Nilai itu menunjukkan seberapat rapat (tingkat kepadatan) dari sebuah lagu ketika dimainkan.

Parameter ketiga adalah koefesien spiral. Hokky mengurutkan nada-nada dari lebih rendah ke lebih tinggi. Data ini lalu menunjukkan tinggi rendahnya eksplorasi nada-nada dari sebuah lagu. Koefisien spiral sendiri adalah nilai yang menggambarkan sejauh mana simpangan nada-nada dalam efek spiral terjadi. Adapun parameter ini mencerminkan dinamika nada pada sebuah lagu.

Parameter keempat dan kelima adalah entropi dan negentropi. Entropi adalah parameter menghitung tingkat ketidakteraturan sistem. Semakin teratur sebuah sistem, kian kecil nilai entropinya. Demikian pula sebaliknya.

Ia diukur melalui variasi nada dan durasi pada lagu. Semakin tinggi lompatan-lompatan dari kuantitas tinggi variasi nada, dan durasi nada yang digunakan, maka kian besar pula entropinya.

Lawan dari entropi adalah negentropi. Ia mengukur tingkat keteraturan atau organisasi struktural lagu. Semakin besar nilai negentropi sebuah sistem, maka kian besar pula tingkat keteraturan di dalam sistem itu.

Sampai di situ, Hokky lalu mengolah semua data pita meme itu menjadi menjadi matriks jarak antar artefak lagu tradisional. Jarak ini yang kemudian ditransformasikan ke pohon filomemetika motif lagu tradisional Indonesia (Lihat Infografik: Fisika Rasa Sayange).

Hokky akhirnya meletakkan hasilnya pada sebuah gambar lingkaran yang merujuk pada pengelompokan lagu. Lagu dari daerah sama cenderung berkumpul dalam satu kelompok.

Hasilnya memang mencengangkan. “Saya stres,” ujar Hokky. Soalnya dia tak menyangka lagu-lagu itu berkumpul seperti asalnya. Dia lalu mengisahkan bagaimana ada sejumlah lagu yang tidak diketahui asal usulnya. Tanpa perlu mendengarkan lagu itu, data nada dan durasinya dimasukkan ke aplikasi komputer.  “Secara probabilistik dapat diketahui dari daerah mana lagu itu berasal,” ujarnya.

Dengan teknik penelitian itu, akhirnya Hokky bisa melacak daerah asal-usul lagu Rasa Sayange. Lagu itu, dalam peta yang disebutnya “phylomemetic” berada di kelompok lagu yang berasal dari Kepulauan Maluku.

“Ia berada sangat jauh dari kelompok lagu dari Provinsi Riau, yang memiliki karakteristik sangat dekat dengan Malaysia. Analisis ini menunjukkan sangat kecil peluang, atau mendekati mustahil, lagu itu berasal dari Malaysia,” kata Hokky.

Gerakan mendata

Teknik analisis lagu itu telah pula diterapkan ke ratusan lagu daerah. “Sudah ada sekitar 500 lagu berhasil terkumpul dari seluruh Nusantara,” kata Hokky. Tetapi jumlah ini masih relatif sedikit, karena ada ribuan lagu tradisional di seluruh penjuru Indonesia.

“Penelitian ini juga bisa dilakukan kalau kita punya data banyak lagu-lagu tradisional di Indonesia,” kata Hokky. Ketika data itu ada dan bisa diakses publik, banyak hal berguna bisa dilakukan. “Misalnya menambah wawasan kita akan pola, mempelajari keanekaragaman budaya di Indonesia, dan lain-lain,” ujarnya.

Untuk itu, Hokky mengajak warga Indonesia agar mendukung Gerakan Sejuta Data Budaya. Caranya turut mengirimkan data kebudayaan tradisional Indonesia ke situs http://www.budaya-indonesia.org.

Gerakan ini, kata Hokky, tak hanya mendata lagu tradisional, tetapi juga elemen motif kain, arsitektur, tarian, ornemen, pengobatan, naskah kuno, dan lain sebagainya. Upaya ini penting, agar menghindari klaim, dari pihak tidak bertanggungjawab di masa depan.

Setidaknya, dalam soal lagu tradisonal, pendekatan teori fisika Hokky dan kawan-kawan bisa menggoyang klaim Malaysia. Rasa Sayange, apa boleh buat, ternyata truly Indonesia. (np)

Sumber :• VIVAnews

 

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: